English Version

Baca Juga

Tuesday, March 5, 2013

Teknik terapi universal:Ericksonian Hypnotherapy


By on 11:59 PM




Hal yang selalu menjadi pertanyaan bagi mereka yang baru belajar hypnosis adalah bagaimana cara melakukan induksi. Lebih jauh lagi, mungkin mereka akan bertanya teknik induksi apa yang paling efektif atau paling ampuh. Maka akan beragamlah jawaban yang bisa muncul, tentunya akan sesuai dengan pengalaman hypnotist itu sendiri. Sehingga hal tersebut semakin membingungkan para penanya. Memang, kalo kita telusuri maka bisa sampai ribuan atau malah tak terhitung jenis induksi yang bisa kita lakukan.  Pantas jika Jeffrey Stephen pernah mengatakan bahwa “Everything you do is hypnosis”. Apakah bisa melakukan induksi dengan cara bersiul? Apakah bisa melakukan induksi hanya dengan bertepuk tangan ? Apakah bisa melakukan induksi hanya dengan meniup sang subjek? Maka jawabnya adalah bisa, yang penting tahu prinsipnya, demikian Jeffrey Stephen menjelaskan.


Malah bacaan para hypnotist pemula adalah teknik induksi melulu. Menurutnya bagian inilah yang terpenting dalam proses hypnosis. Pertanyaan lain yang juga sering muncul adalah tentang menutup mata. Hal ini bisa kita pahami karena biasanya yang menjadi target saat melakukan induksi ataupun proses hypnosis adalah bagaimana cara agar subjeknya menutup mata sehingga bisa meyakinkan bagi sang hypnotist bahwa benar subjeknya sudah terhipnosis atau trance. Meskipun sebenarnya ternyata subjek tidak perlu ataupun tidak harus menutup mata saat trance. Fenomena inilah yang justru banyak kita lihat di masyarakat. Terhipnosis tanpa menutup mata inilah yang bisa diterapkan saat hypnoselling, kan lucu kalo melakukan selling sementara semua customernya harus menutup mata. Saking serunya topik ini, Richard Bandler pernah berkelakar bahwa kenapa mau repot-repot induksi untuk membuat subjek menutup mata, minta saja langsung kepada subjeknya untuk menutup matanya, gitu ajo kok repot!

Seiring dengan waktu, pengalaman melakukan induksi semakin bertambah, ternyata induksi bukan lagi suatu masalah, ternyata hal yang paling kritis adalah apa yang bisa dilakukan setelah sang subjek terhipnosis atau cara apa yang paling efektif untuk bisa menolong sang subjek keluar dari masalah. Jawabannya pun pasti sangat beragam. Maka dikenallah banyak jenis teknik hipnoterapi seperti teknik visualisasi, guided imagery, gestalt therapy dll. Pengalaman terhadap teknik tersebut juga bervariasi. Pastinya, semua teknik tersebut sangat baik dan efektif bagi yang menguasainya. Tapi tidak ada satupun teknik yang efektif untuk semua jenis permasalahan. Saya jadi teringat dengan iklan sebuah obat yang bisa mengobati segala jenis penyakit. Setiap obat pasti ada peruntukannya (indikasi). Sang hypnotist itu ibarat seorang tukang kayu yang mempunyai “tool box” yang berisi macam-macam peralatan. Alat mana yang akan dipergunakan tergantung jenis pekerjaan yang akan dilakukan.

Mungkin dulu kita pernah berpikir bahwa proses hipnoterapi itu sangat gampang, begitu subjek sudah trance maka proses terapi tidak menjadi masalah lagi. Kalo seandainya subjeknya mengeluh ‘Sakit kepala’, maka cukup mengatakan “ Dalam tiga hitungan, sakit kepala anda akan hilang”, atau jika subjeknya mengalami masalah phobia, maka cukup dikatakan “ Nanti setelah anda membuka mata, phobia anda hilang”. Ternyata, tidak semudah itu. Mungkin juga anda bisa memberikan sugesti untuk bisa melupakan permasalahan yang ada, seperti membuat subjek mengalami amnesia, tapi tidak lama kemudian, permasalahan tersebut muncul kembali. Proses hipnoterapi selalu menjadi suatu topik yang hangat , jika diulas akan bisa menghabiskan beribu-ribu halaman.

Akhirnya, timbullah suatu pendekatan yang universal baik dari sisi hypnosis maupun aspek hypnotherapy, yang tidak mengandalkan sebuah teknik tertentu. Pendekatan yang langsung bersumber dari dalam subjek itu sendiri, karena sebenarnya solusi dari setiap permasalahan sudah ada pada setiap seseorang, sang hypnotis hanya perlu meng-guide sang subjek untuk menemukan sendiri solusinya dalam dirinya. Hal itulah yang menjadi landasan utama dalam ericksonian hypnosis ataupun ericksonian hypnotherapy. Murid-murid Milton Erickson sendiri tidak ada yang tahu persis teknik yang dipergunakan Milton Erickson saat bertemu dengan clientnya. Sehingga memicu kreativitas para muridnya untuk mempersepsi sendiri proses terapi yang dilihatnya. Stephen Lankton membuat buku “ Answer Within” sesuai dengan persepsinya, Bill O’Hanlon mengarang buku “ Solution oriented hypnosis” sesuai dengan persepsinya, demikian pula dengan Stephen Gilligan dll. Disitulah keberhasilan Milton H.Erickson mengajarkan hipnosis kepada para muridnya. Sang Guru tidak mengajarkan 1 atau 2 jurus kepada muridnya, tapi erickson mengajarkan prinsip hipnosis sehingga sang murid bisa berkembang sesuai dengan pribadinya masing-masing. Sang murid diberi kebebasan untuk mempersepsinya sendiri. Tidak seperti guru silat yang hanya mengajarkan satu jurus kepada muridnya.

Saya sendiri lebih senang pendekatan yang dilakukan oleh Bill O’Hanlon, tekniknya lebih praktis, simpel tapi universal baik dalam proses hypnosis maupun hypnotherapy. Secara sederhananya, proses terapi berprinsip “ carilah lawannya atau hal yang berlawanan dengan problemnya”. Panas dilawan dengan dingin, pahit dengan gula, seperti prinsip Ying dan Yang. Tapi untuk bisa menemukan “lawannya”, kita harus terlebih dulu mengetahui karakteristik problemnya. Cara yang paling gampang untuk mengetahuinya yaitu dengan memodel problem sang subjek sehingga kita bisa mendapatkan gambaran strategi yang dipergunakan oleh subjek untuk menimbulkan suatu problem. Setelah itu baru buat strategi terapi. Jika strategi subjek membuat problem adalah A→B→C maka strategi terapinya adalah C→B→A. Hal yang menjadi tantangan berikutnya adalah bagaimana cara menerapkan strategi terapi yang telah kita susun yaitu C→B→A tadi, disinilah dibutuhkan kreativitas sang terapis untuk melakukannya, lakukanlah “going first”, solusi akan datang sendiri nantinya! Semoga bermanfaat.

About dr. Iqbal

dr. Iqbal adalah Pemilik dari Shichida Makassar. Seorang dokter ahli syaraf.

0 comments:

Post a Comment